Sidebar

27
Rab, Mei

PPPPTK Seni dan Budaya selenggarakan STEAM dan Arts Integration

Berita
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

WORKSHOP Steam dan Arts Integrations untuk Widyaiswara, Pengembang Teknologi Pembelajaran, dan Guru diadakan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Seni dan Budaya. Berlangsung tanggal 9 sampai 13 Desember 2019 kegiatan bertempat di Hotel Neo+Awana Yogyakarta dan dibuka secara resmi oleh Kepala PPPPTK Seni dan Budaya Dr. Dra. Sarjilah. M.Pd.


Diikuti oleh 59 peserta yang terdiri dari Widyasiwara, PTP, Guru Produktif dan Guru seni Budaya. Kegiatan ini terbagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A untuk Arts Integration dan Kelas B untuk STEAM.

Selama 5 hari peserta diberikan materi diantaranya konsep pembelajarana STEAM, konsep arts Integration, penyusunan draft rencana pembelajaran Arts Integration, dan media pembelajaran. Menghadirkan narasumber Dr. Agung Suprihatin, Arief Husein Maulani, M.Si dari PPPPTK BOE Malang, dan Widyaiswara dari PPPPTK Seni dan Budaya Eko Santosa, S.Sn, Drs. Kartiman, M.Sn, Drs. Agung Handoko, M.Pd., Rohmat Sulistya, S.T..M.Si., dan Widayati Indarsih, S.Si., M.Sc.


Pendidikan STEAM beritegrasi pada sains, technology, engineering arts, dan mathematic yang terancang untuk mengembangkan kreativitas siswa melalui proses pemecahan masalah dalam kehidupan sehari hari. STEAM menyiapkan siswa untuk lebih berani mencoba dan tidak takut gagal dengan menemukan solusi pemecahan masalah.

Sementara itu Konsep Arts Integration yang terancang sebagai model pembelajaran terbagi menjadi 3 kategori yaitu proses koneksi kurikuler, belajar melalui dan dengan seni dan keterlibatan kolaboratif.

Ketiga konsep tersebut bisa terus berkembang dan memungkinkan untuk terus dikembangkan sesuai dengan konteks dari masing-masing sekolah, wilayah, atau Negara. Bagi guru mata pelajaran seni budaya penerapan Arts Integration diharapkan mampu membuka sekat antar cabang seni dengan ilmu lain yang selama ini masih tergaris tegas. (Herlin).